Banjir Bandang : Takdir Tuhan Atau Ulah Manusia

Padang, 24 Juli 2012, 18.30 WIB.

Sirene tanda masuknya waktu berbuka puasa masih terngiang jelas ditelinga. Hujan deras yang disertai badai melengkapi menu berbuka senja itu.

Disaat semua orang tengah berbahagia dengan masuknya waktu berbuka, namun tidak bagi masyarakat di Kecamatan Pauh, Lubuk Begalung, dan Nanggalo. Hujan deras yang turun sejak pukul 16.30 WIB, menimbulkan banjir bandang. Ya, sekitar 18.30 WIB, itulah banjir bandang menerjang kawasan mereka. Kenikmatan berbuka puasa berubah menjadi petaka.Suka cita menyambut bulan suci Ramadhan, kini berbalut menjadi duka.

Air bah yang datang dari hulu Batang Kuranji dan Batang Arau  merendam ribuan rumah sepanjang bantaran sungai di 19 kelurahan, di Kecamatan Pauh, Lubuk Begalung, dan Nanggalo.

Banjir merendam hingga mencapai atap rumah, yang membuat mereka harus mengungsi ketempat yang lebih tinggi dan harus merelakan harta benda mereka lenyap di bawa arus deras yang bercampur lumpur. Memang tidak ada korban jiwa dalam bencana ini, namun berita yang dikeluarkan oleh media setempat menyatakan bahwa 8 orang hilang ketika banjir bandang ini terjadi (ditemukan keesokkan harinya dengan selamat).

Kecamatan nanggalo adalah yang terparah terkena dampak dari banjir bandang ini. Setidaknya ±150 kepala keluarga mengisi posko-posko pengungsian yang disediakan.

Bukan hanya rumah dan tempat ibadah saja yang diterjang, puluhan ternak pun juga tak luput dari santapan banjir yang disertai lumpur tersebut.

Status siaga darurat banjir langsung dikeluarkan oleh BPBD Padang, warga yang tinggal di bantaran Sungai Batang Kuranji dan Sungai Batang Arau diminta tetap waspada untuk mengantisipasi jika terjadi banjir bandang susulan. Sekitar pukul 21.30 WIB, dari media elektronik dan media sosial, saya ketahui bahwa air mulai surut dan warga mulai berupaya membersihkan jalan dan rumah mereka yang tergenang lumpur yang cukup tebal. Selain itu BPBD Padang juga mulai memberikan bantuan logistik, baik berupa pakaian maupun makanan untuk sahur para pengungsi.

Keesokkan harinya, para korban yang sudah mulai kembali kerumah masing-masing mengalami krisis air bersih. Masyarakat di 19 kelurahan yang terkena banjir bandang kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan makan, mandi, cuci kakus.

Sedangkan di lain hari, pemerintah mulai menghitung kerugian yang timbul akibat dari banjir bandang. Tercacat Rp 263,9 miliar kerugian yang timbul, baik dari sektor infrastuktur, pendidikan, pertanian, perhutanan, peternakan, dan perkebunan.

Dan apa yang paling penting lagi? Ialah penyebab dari terjadinya banjir bandang tersebut !!!

Padang, 12 September 2012, 16.30 WIB.

Belum selesai tangis karena banjir bandang yang terjadi beberapa waktu yang lalu, lagi-lagi banjir bandang susulan terjadi di Kota Padang pada pukul 16.30 WIB. Kembali meluapnya Sungai Batang Kuranji membuat daerah yang pada waktu lalu terkena banjir bandang harus kembali merasakan derasnya air bercampur lumpur. Hujan deras yang memicu terjadinya banjir bandang juga menyebabkan longsong di tiga lokasi di Kecamatan Pauh tepatnya di kawasan Lambuangbukik, Patamuan, dan Batu busuak.

Seperti halnya bunyi pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Pauh. Disaat mereka harus mencapai ketinggian untuk menghindari terbawa oleh arus banjir bandang, mereka juga harus berupaya agar tidak terkubur di dalam runtuhan tanah dan bebatuan dari atas bukit di sekitar tempat tinggal mereka.

Tak tanggung-tanggung, tercacat enam rumah dan empat korban meninggal dunia akibat tertimbun reruntuhan material longsor. Selain itu ribuan rumah terendam oleh banjir bandang dengan ketinggian sekitar 1-1,5 meter. Ratusan warga di Kecamatan Pauh dan Nanggalo kembali harus diungsikan. Di Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Pauh sempat terisolasi, karena tidak dapat menyeberang ke Kelurahan Limau Manih akibat dari jembatan penghubung ke dua kelurahan putus akibat dihantam banjir bandang, namun Basarnas, BPBD, dan Dinas Pemadam Kebakaran Padang berhasil mengevakuasi warga disana dengan menggunakan seutas tali.

Selain merendam rumah warga, luapan air Sungai Batang Kuranji juga merendam beberapa ruas jalan raya, seperti di jalan raya pasar baru, yang membuat akses transportasi ke Universitas Andalas tidak dapat dilewati.

Hingga keesokkan hari setelah banjir bandang melanda dua kampung masih terisolalasi, karena tiga jembatan penghubung di dua kampung tersebut putus dihantam banjir bandang. Hal ini mengakibatkan setidaknya 70 orang pelajar di kampung tersebut tidak bisa sekolah. Warga terpaksa harus menggunakan tali yang dibentangkan oleh BPBD Padang untuk menyebrangi sungai.

Dan selain kesulitan air bersih, warga yang mengungsi di posko pengungsian mulai terserang penyakit seperti, batuk, gatal-gatal, demam,dll. Hal ini di akibatkan oleh cuaca yang dingin di tenda pengusian, sirkulasi udara yang buruk di tenda pengungsian, dan makan yang tidak teratur. Di sisi lain, alat-alat berat mulai terlihat bergerak menggali material-material longsor dan mengangkat batu-batu besar dari dalam sungai ke pinggir sungai.

Sungguh mengharukan nasib saudara kita yang tertimpa musibah.

Belum terjawab pertanyaan saya diatas, sudah muncul lagi pertanyaan yang lain nya. Kenapa bisa terjadi lagi?

Beberapa rekomendasi saya cari untuk mendapatkan jawaban yang sempurna. Menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumbar, BPBD Sumbar, Sekretariat Bersama Pencinta Alam (Sekber PA) Sumbar dan berbagai instansi yang melakukan penelitian dan ekspedisi ke lokasi hulu Sungai Batang Kuranji dan Batang Arau menyatakan bahwa banjir bandang yang terjadi baik yang pertama maupun kedua adalah akibat dari maraknya pembalakan liar di hulu sungai. Akibatnya, tidak mampu menyerap curah hujan yang tinggi karena banyaknya kawasan yang kritis. Terjadinya banjir bandang ini juga tidak terlepas dari kesalahan pemanfaatan tata ruang kota, dimana hulu sungai yang dulunya adalah hutan yang lebat, kini sudah kritis karena maraknya pembalakan liar dan dijadikan pemukiman.

Namun ada juga pihak yang menyebut ini hanyalah fenomena alam biasa. Apa ini benar?

Kita harus bisa membedakan mana yang bencana alam dan mana yang bencana ekologis. Bencana alam itu tidak dapat kita cegah, misalnya, gempa bumi. Sedangkan bencana ekologis diakibatkan oleh pengerusakan lingkungan oleh manusia. Pembalakan hutan yang sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu membuat kita merasakan dampaknya pada saat sekarang.

Faktanya, banyak kita lihat gerakan penanaman pohon di berbagai tempat. Apakah itu hanya seremonial belaka? Apa yang kita lakukan setelah pohon-pohon itu tertanam di bumi?

Kita tidak boleh puas hanya dengan gerakan seperti itu saja, dan jangan hanya kesadaran kita untuk menjaga lingkungan hanya muncul saat bencana itu terjadi, dan setelah bencana itu pergi tanpa tau kemana lagi arahnya, kita kembali melakukan pengerusakan lingkungan.

Sungguh suatu pemahaman yang membuat saya bingung. Bencana ini, takdir tuhan ataukah ulah manusia itu sendiri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s